Some Text

Assalamualaikum wr.wb :D

Monday, October 29, 2012

Urban life Kota Bandung di Mata Mahasiswa ITB




Bandung, itb.ac.id – Siapa yang tidak tahu Kota Bandung, kota kembang dengan para bidadari bidadari cantik ini menarik banyak para wisatawan dari luar kota untuk berkunjung ke kota yang mempunyai oleh oleh tradisional peyem ini. Kota Bandung adalah ibukota dari provinsi Jawa Barat. Kota Bandung biasa disebut juga sebagai kota wisata, kota kuliner, dan kota pelajar, hal ini dikarenakan banyak sekali pelajar tamatan SMA dari luar kota Bandung yang “terpaksa pindah” untuk meneruskan studinya di kota ini.

Berbicara tentang mahasiswa pendatang, tentunya banyak sisi posistif dan negatifnya bagi suatu kota yang ditinggali menjadi penduduk perkotaan, berbicara tentang definisi urban life di kota Bandung ini mempunyai intrepretasi masing masing yang berbeda, seperti yang dikatakan oleh Puspita, editor The Teenage Spirit Station, 105.9 EBS FM Surabaya seperti dikutip dalam tulisan beliau mengenai definisi Urban life,” Urban life adalah kehidupan urban yang menjadi budaya. Urban sendiri bisa diartikan sebagai penduduk perkotaan. Tau urbanisasi kan, yup! Dikota ini banyak sekali pendatang, sehingga kebudayaan dari para pendatang ini bercampur membentuk budaya campuran atau bahkan budaya baru.”

Bisa kita lihat dengan mata terbuka, kota Bandung yang gemerlap di malam hari bak kunang kunang malam yang memancarkan cahaya membuat para pendatang mendekat ke arah sumber cahaya, kehidupan kota yang nyaman karena udaranya yang sejuk dan terhibur dengan maraknya hiburan malam di kota Bandung yang beraneka ragam. Para pendatang pun dimanjakan oleh lengkapnya fashion kota kembang yang dilayani dengan ramahnya penjaja wisata kuliner yang beraneka macam kreatifitas dan keunikan di setiap masakannya. Banyak mall – mall yang berdiri megah dengan keeksotisan masing masing tempat, sebut saja mall – mall besar seperti BIP ( Bandung Indah Plaza ), Ciwalks, PVJ ( Paris Van Java ), BSM ( Bandung Super Mall ), Trans Studio Bandung, dan lain lain.

Di mata mahasiswa ITB yang notabene mayoritas adalah mahasiswa perantauan, sangat tertarik akan gemerlapnya kota Bandung, kehidupan perkotaan yang beroperasi 24 jam nonstop menggambarkan kehidupan kota yang tidak pernah beristirahat . Dari 4 responden yang diwawancarai secara random, ternyata urban life sangat menarik perhatian mahasiswa.

Menurut Yuwana Setiabudi (23), Oceanografi 2008, yang berasal dari Kota Semarang, Jawa Tengah, mengatakan bahwa, “Urban life di kota Bandung ini perlu dikontrol, supaya tidak terjadi over population society. Terutama Bandung ini dilihat dari segi transportasi perkotaan juga belum baik secara fasilitas umum maupun pelayanannya, masih banyak saya rasakan banyak angkot yang sering ngetem, terutama pada sistem transportasi itu sendiri yang tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat. Terlalu kumuh dan macet menurut saya. Dari segi fashion style remaja Bandung sebaiknya memperhatikan tempat dan kondisi dalam berpakaian. Ya sewajarnya sajalah, jangan menggunakan hot pants pada malam hari.

Sebenarnya jika dilihat dari segi untung dan rugi, fashion remaja kota Bandung ini membawa keuntungan juga yaitu menciptakan pasar, banyak produk fashion yang baru, contohnya jaket, sepatu, dan baju. Selain itu terjadi proses pertukaran uang yang tinggi, negatifnya ya itu tadi pakaian yang tidak tahu tempat dan kondisinya dapat menimbulkan tindak kriminalitas, sebaiknya ya tetap memperhatikan adat istiadat yang berlaku dan norma norma yang ada.

Sedangkan menurut M. Fathkurozzi (21), Teknik Sipil 2009, asal kota Malang, menanggapi masalah Urban Life Bandung ini dengan serius, “ Bandung ini mulai padat, kota yang didesain hanya untuk 500.000 jiwa, sekarang mencapai 2,5 juta jiwa. Ini artinya daerah perkotaan mengalami ledakan penduduk. Hal ini dikarenakan kota Bandung kurang mengedepankan pembangunan yang berkelanjutan yang lebih visioner. Pembangunan mall – mall dimana mana, menyebabkan penduduknya lebih sering ke mall daripada pasar tradisional, sehingga ekonomi pasar tradisional menjadi lumpuh. Kemacetan pun dimana mana, karena banyak mobil pribadi bertebaran, dari segi teknis kemacetan itu dapat diatasi dengan transportasi massal yang layak digunakan. Menurutnya kota Bandung sebagai daerah perkotaan harusnya mampu menjawab permasalahan permasalahan yang terjadi, padahal disini ada sekolah terbaik bangsa, tapi disini dunia per-sipil-an merasa tidak diimplementasikan oleh pihak pemerintah, akibatnya ya kehidupan masyarakat perkotaan menjadi tidak teratur, banyak terjadi kesenjangan social, ada perbedaan antara si kaya dan si miskin terlihat begitu mencolok.”

Menurut Ilham Togi (23), Teknik Geofisika 2008, yang berasal dari Aceh, menanggapinya dengan bijaksana, “ Ya maklumlah hidup di kota, menurut saya masih wajar sih apabila kehidupan mereka cenderung glamour. Yang saya heran itu remaja Bandung anaknya alay – alay mungkin karena budaya perkotaan yang masuk sehingga mereka ikut ikutan aja. Orangnya ramah ramah kok, cuma gatau kenapa kalo sama orang Jakarta sensitif, mungkin karena masalah supporter bola, Viking sama The Jack mania yang terus berantem. Kalo masalah kriminalitas untuk daerah perkotaan masih wajar sih, kehidupan tekhnologinya juga maju atau melek tekhnologilah intinya, tapi mungkin seperti tekhnologi di bidang komunikasi saja, seperti internet dan gadget. Sebagai kota hiburan ya banyak yang mengumbar aurat dan maksiat, mungkin karena butuh hiburan setelah seharian bekerja, karena kehidupan di kota itu 24 jam. Banyak pendatang yang menatap karena di Bandung sebagai tempat tinggal menurut saya nyaman sih jadi ya wajar untuk urban life orang perkotaan. Terutama tempat untuk nongkrong – nongkrong.

Menurut Husein (21), Matematika 2010, asal Gombong, Jawa Tengah, “Intinya di Bandung itu kan arus perputaran uang banyak terjadi disini, artinya banyak yang bekerja juga dan semua kebutuhan yang kita butuhkan ada disini, uniknya itu di Bandung tidak hanya mall – mall besar tetapi juga ada factory – factory outlet yang bertebaran dimana mana, pusat oleh oleh juga ada dan aksesnya lumayan dekat. Kalo masalah pergaulannya ya pergaulan kota ya emang seperti itu, walaupun Bandung ini kota fashion sebaiknya digunakan pada saat dan waktu yang tepat saja. Daerah wisatanya bagus dan kotanya sejuk cocok untuk tempat peristirahatan.

Setiap orang mempunyai persepsi masing masing tentang urban life di Kota Bandung, ada yang bilang padat atau macet, ada yang bilang kota fashion, kota mall, kota wisata kuliner, sampai tempat nongkrong yang intinya kembali ke pribadi kita masing masing melihat Kota Bandung dari sisi manapun.  Bagaimana pendapatmu tentang urban life di Kota Bandung ? Makanya datang ke Kota Bandung. (apw)

3 comments:

Anonymous said...

bagus gan tulisannya, mantap... coba dibuat buku :D

Unknown said...

hehehe siap mas bro, silahkan baca baca yang lain :)

stenote said...

Blog yang bagus... semoga terus berkembang blognya... Saya ingin berbagi artikel tentang Sungai Li , Guilin di http://stenote-berkata.blogspot.com/2017/12/perjalanan-sepanjang-sungai-li.htm
Lihat juga vlog di youtube https://youtu.be/Dk3oSC17xdo