Some Text

Assalamualaikum wr.wb :D

Friday, April 29, 2011

BRIKET SISTEM SENSOR SEBAGAI ENERGI PENGGANTI PEMBAKAR di ITB

Dewasa ini, semakin majunya suatu zaman semakin berkembang pula teknologinya, ITB sebagai universitas terdepan dalam pengembangan teknologi terus berinovasi dan melakukan riset bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan dan bermanfaat bagi orang lain dengan praktis dan safety ketika digunakan. Dengan adanya inovasi secara kontinu dan pengetahuan yang kita miliki diharapkan dapat menjawab solusi atas permasalahan yang kita hadapi saat ini.  Masalah yang sering dihadapi sekarang ini adalah ketersedian energi yang semakin lama akan semakin habis dan lambatnya langkah untuk mencari dan mengembangkan energi alternatif. Mulai dari energi bahan bakar yang nantinya akan mengalami kelangkaan dan minimnya riset sebagai energi terbarukan dalam pengembangan energi alternatif.  Oleh karena itu saya mencoba berinovasi untuk memanfaatkan sampah yang ada di ITB menjadi sumber energi bahan bakar pembakar atau lebih dikenal dengan nama kompor yang ada di ITB.
Permasalahan yang saya lihat adalah di Kampus ITB ini sebagai kampus hijau, banyak daun daun berserakan yang hanya dibersihkan oleh petugas kebersihan tanpa dimanfaatkan menjadi nilai barang yang lebih bermanfaat. Gaya konsumerisme mahasiswa yang cenderung tinggi menyebabkan sampah yang berada di ITB semakin menumpuk, dari permasalahan tersebut kita mencari solusi bagaimana kita dapat memanfaatkan sampah tersebut menjadi barang yang mempunyai nilai jual tinggi. Setelah adanya pemilahan sampah, sampah plastik atau lebih dikenal dengan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang bermanfaat contohnya adalah ember, sedangkan sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos, selain itu sampah organik dapat juga kita jadikan briket, briket adalah bahan bakar alternatif terbuat dari bahan baku sampah organik yang sudah di olah dan di harapkan menjadi bahan bakar pengganti sebagai pilihan yang dibutuhkan masyarakat[1]. Cara membuat briket sangatlah mudah dan bahan baku pembuatannya ready stock ada setiap hari bahkan jika kekurangan bahan baku, kita bisa meminta sampah organik yang ada di kebun binatang ( sebelah ITB ) untuk mensupply bahan baku yang kita butuhkan.  Keunggulan briket yang kita gunakan sebagai bahan bakar adalah bahan bakunya yang murah dan ekonomis, panas yang tinggi dan kontinu sehingga sangat baik untuk pembakaran yang lama, tidak beresiko meledak/terbakar seperti kompor minyak tanah atau kompor elpiji, tidak mengeluarkan suara bising serta tidak berjelaga, sumber bahan baku berlimpah, ramah lingkungan, dan aman bagi kesehatan. Briket dapat dijadikan energi alternatif sebagai bahan bakar dalam pembakar yang ada di ITB, tetapi dalam pelaksanaannya penggunaan briket memiliki kelemahan yaitu kita tidak dapat mengontrol suhu panas dalam briket, oleh karena itu kita menciptakan sistem sensor untuk mengatur suhu yang ada di briket sebagai kompor atau pemanas.
Konsep sensor yang kita gunakan prinsipnya sama dengan oven, apabila ada yang matang maka pemanas akan berhenti, kita akan menetukan set point dari sistem kontrol suhu yang akan kita gunakan sebagai kompor yang di dalamnya berisi briket yang dapat diganti dengan briket lain apabila briketnya habis terpakai. Suhu yang akan kita gunakan kita tentukan dulu dalam chip yang kita gunakan sebagai mikrokontroller[2] pada rangkaian sistem kontrol suhu, sensor akan merespons suhu dari sistem yang dikontrol. Secara garis besar, kita menggunakan 3 blower  pada kompor, yang pertama berada di bawah briket, blower tersebut digunakan agar api yang menyala stabil, ibaratnya seperti gas, kemudian 2 blower berada di samping kanan dan kiri berfungsi untuk mematikan api yang menyala, dan akan switch  antara blower yang ada di bawah dengan yang ada di samping kanan dan kiri setelah meleati set point suhu yang kita tentukan. Tujuan kita sebenarnya mengontrol suhu dalam briket dengan nilai suhu yang ditentukan ( set point ). Secara garis besar sensor suhu akan mencatat nilai aktual suhu yang disebut process variable. Operator memberikan set point suhu yang kita inginkan. Kemudian perbandingan antara process variable dengan set point dicacat sebagai error[3]. Nilai error inilah yang kita dapatkan untuk menggerakkan blower. Proses ini berlangsung sampai nilai error sama dengan nol untuk sistem ideal dan atau mendekati nilai steady state error yang bergantung pada karakteristik sistem dan jenis kontrol yang kita buat. Oleh karena itu briket dengan sistem sensor yang kita buat ini diharapkan menjadi pengganti pembakar yang ada di ITB.


[1] http://briket-indonesia.50webs.com/
[2] Mikrokontroler adalah suatu alat elektronika digital yang mempunyai masukan dan keluaran serta kendali dengan program yang bisa ditulis dan dihapus dengan cara khusus, http://www.kelas-mikrokontrol.com/
[3] Modul 4 sistem kontrol suhu

No comments: